Pesawat CN 235 sering kali dihubungkan dengan mantan Presiden Indonesia, B.J. Habibie, karena peran signifikan yang dimainkannya dalam pengembangan pesawat ini. Sebagai Menteri Riset dan Teknologi Indonesia pada tahun 1970-an, Habibie memainkan peran penting dalam mempromosikan kerjasama teknologi antara Indonesia dan Spanyol yang kemudian mengarah pada pengembangan CN 235. Habibie juga pernah menjadi Direktur Teknik dan Produksi di IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia), perusahaan yang berkolaborasi dengan CASA (sekarang Airbus Defence and Space) dalam pembuatan CN 235. Keterlibatan Habibie dalam proyek ini memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk memperoleh teknologi penerbangan yang penting dan meningkatkan industri dirgantara negara tersebut.
B.J. Habibie adalah seorang insinyur dan politikus Indonesia yang menjabat sebagai Presiden Indonesia ke-3. Dia memimpin Indonesia setelah pengunduran diri Soeharto pada tahun 1998. Meskipun masa kepresidenannya singkat, dia banyak dikenal karena upayanya dalam pembangunan industri pesawat terbang dan teknologi di Indonesia.
Sebelum menjadi presiden, B.J. Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi di bawah pemerintahan Presiden Soeharto. Dalam posisi ini, dia berperan dalam mengembangkan industri teknologi dan penerbangan di Indonesia.






