Lagu Cublak-Cublak Oleh Suweng Sunan Giri 1442 M

Tembang, Sejarah37 Dilihat

 

Lagu Cublak-Cublak Suweng bukan sekadar lagu dolanan anak-anak, tetapi juga sarat dengan makna filosofi dan nilai dakwah Islam yang disampaikan melalui budaya.

Permainan ini diciptakan oleh Sunan Giri pada tahun 1442 M di Jawa Timur sebagai bagian dari misinya menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Sunan Giri dikenal sebagai salah satu anggota Wali Songo yang menggunakan pendekatan budaya dalam dakwahnya, termasuk melalui permainan dan lagu rakyat.

Makna dari lagu ini berkaitan dengan pencarian harta atau kebijaksanaan sejati dalam kehidupan. Dalam liriknya, suweng (perhiasan) melambangkan sesuatu yang berharga, sedangkan permainan yang mengiringinya mengajarkan nilai kejujuran dan kebijaksanaan dalam mencari kebenaran.

Permainan Cublak-Cublak Suweng sendiri masih sering dimainkan oleh anak-anak di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, menjadikannya bagian dari warisan budaya yang terus hidup hingga sekarang.

 

Makna Lagu Cublak-Cublak Suweng

Cublak-Cublak Suweng bukan sekadar lagu dolanan anak-anak, tetapi juga memiliki makna filosofi yang dalam. Lagu ini diciptakan oleh Sunan Giri pada tahun 1442 M di Jawa Timur sebagai media dakwah dalam menyebarkan Islam. Melalui lagu ini, Sunan Giri mengajarkan tentang kebijaksanaan dalam mencari kebahagiaan sejati serta pentingnya menggunakan hati nurani dalam kehidupan.

Secara harfiah, Cublak-Cublak Suweng berarti “tempat harta berharga”. Dalam bahasa Jawa, suweng berarti “anting” atau perhiasan, tetapi juga memiliki makna suwung, yang berarti kosong, sepi, atau sejati. Oleh karena itu, makna tersembunyi dari lagu ini adalah tentang pencarian “harta sejati”, yaitu kebahagiaan hakiki yang tidak berasal dari harta duniawi, melainkan dari hati yang bersih dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Baca Juga : Semboyan Hidup Pawa Walisongo

Makna Filosofis dalam Lirik Lagu

Setiap bait dalam lagu ini mengandung makna mendalam tentang kehidupan manusia:

  1. “Cublak-cublak suweng”

    • Menggambarkan tempat harta sejati. Manusia sering kali mencari kebahagiaan di luar dirinya, padahal kebahagiaan sejati ada di dalam hati yang bersih dan penuh ketulusan.
  2. “Suwenge teng gelenter”

    • Gelenter berarti berserakan, menggambarkan bahwa kebahagiaan sejati sebenarnya telah ada di sekitar manusia, tetapi sering kali tidak disadari karena terlalu fokus mencari harta duniawi.
  3. “Mambu ketundung gudel”

    • Gudhel berarti anak kerbau, yang dalam budaya Jawa sering diibaratkan sebagai orang yang bodoh atau belum memiliki kebijaksanaan. Frasa ini menggambarkan bahwa banyak orang yang mencari kebahagiaan dengan cara yang salah, seperti dengan keserakahan, korupsi, dan nafsu duniawi. Mereka mengikuti hawa nafsu tanpa memahami hakikat kebahagiaan yang sebenarnya.
  4. “Pak Empo lirak-lirik”

    • Pak Empo berarti bapak tua ompong, yang dalam konteks lagu ini melambangkan orang yang kebingungan. Meskipun seseorang telah mengumpulkan harta melimpah, jika tidak disertai kebijaksanaan dan hati yang bersih, ia tetap akan merasa resah dan tidak puas.
  5. “Sapa ngguyu ndhelikake”

    • Artinya “siapa yang tersenyum adalah yang menyembunyikan”. Ini mengandung pesan bahwa orang yang benar-benar bijaksana dan memahami hakikat kehidupan akan selalu tenang dan tersenyum dalam menghadapi kehidupan. Mereka tidak tergoda oleh keserakahan dan lebih mementingkan kebahagiaan sejati yang bersumber dari hati nurani.
  6. “Sir-sir pong dele kopong”

    • Sir berarti hati nurani, sedangkan pong dele kopong berarti kedelai kosong tanpa isi. Maknanya adalah bahwa untuk mencapai kebahagiaan sejati, seseorang harus mengosongkan dirinya dari ketamakan dan keserakahan terhadap harta benda duniawi. Hati yang bersih dan penuh keikhlasan akan membantu seseorang menemukan kebahagiaan yang sejati.

Pesan Moral dalam Lagu Cublak-Cublak Suweng

Lagu ini mengajarkan nilai-nilai moral yang sangat penting, di antaranya:

  1. Jangan Menuruti Hawa Nafsu dalam Mencari Kebahagiaan

    • Banyak orang terjebak dalam keserakahan dan keinginan mengumpulkan harta tanpa mempertimbangkan nilai-nilai moral dan hati nurani. Lagu ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari harta, melainkan dari ketulusan dan keikhlasan dalam menjalani hidup.
  2. Gunakan Hati Nurani dalam Setiap Urusan

    • Lagu ini menekankan pentingnya hati nurani dalam setiap keputusan yang diambil. Dengan hati yang bersih, seseorang akan lebih mudah menemukan kebahagiaan sejati dan tidak tersesat dalam pencarian harta duniawi.
  3. Belajar dari Sejak Dini untuk Menanamkan Nilai Kehidupan

    • Secara kultural, lagu Cublak-Cublak Suweng mengajarkan anak-anak sejak dini untuk memahami arti kehidupan dan pentingnya menggunakan hati nurani. Nilai-nilai ini akan tertanam dalam diri mereka hingga dewasa.
  4. Menghormati dan Bersyukur atas Rahmat Tuhan

    • Lagu ini juga mengajarkan pentingnya bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan Tuhan. Jangan sampai keserakahan membuat seseorang lupa akan esensi kehidupan yang sebenarnya.

Lagu Cublak-Cublak Suweng bukan sekadar lagu permainan anak-anak, tetapi juga merupakan sarana dakwah yang disampaikan oleh Sunan Giri. Melalui lagu ini, tersirat pesan tentang pencarian kebahagiaan sejati yang tidak terletak pada harta duniawi, melainkan pada hati nurani yang bersih dan kehidupan yang dijalani dengan keikhlasan. Lagu ini juga mengajarkan bahwa kebijaksanaan dan ketenangan batin lebih berharga daripada sekadar kekayaan materi. Oleh karena itu, Cublak-Cublak Suweng tetap relevan hingga saat ini sebagai warisan budaya dan nilai kehidupan bagi generasi mendatang.