Syair permainan ciptaan Walisongo

Tembang, Sejarah16 Dilihat

Syair permainan ciptaan Walisongo memang memiliki makna yang sangat dalam dan filosofis. Syair-syair ini sering kali merupakan media dakwah yang digunakan para wali dalam menyebarkan ajaran Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Dengan pendekatan yang kreatif dan sesuai budaya lokal, syair-syair ini mengandung pesan moral, spiritual, serta kebijaksanaan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan.

Berikut adalah beberapa makna utama yang bisa diambil dari syair-syair permainan tersebut:

1. Pengajaran Tauhid

  • Banyak syair permainan yang memiliki pesan-pesan yang mengingatkan manusia untuk senantiasa mengingat Allah (zikir) dan menyadari keesaan-Nya. Misalnya, permainan seperti Ilir-ilir yang dinisbahkan kepada Sunan Kalijaga berisi ajakan untuk membangunkan jiwa yang tertidur, sebagai simbol kesadaran untuk kembali kepada Allah.

2. Adaptasi dengan Budaya Lokal

  • Syair ini seringkali menggunakan bahasa, istilah, dan konteks lokal yang akrab bagi masyarakat Jawa pada masa itu. Dengan cara ini, ajaran agama diterima lebih mudah tanpa terasa memaksakan perubahan yang drastis.

3. Pesan Kehidupan

  • Selain bersifat spiritual, syair-syair ini juga kerap mengandung nasihat kehidupan, seperti pentingnya kerja keras, berbagi, berbuat baik kepada sesama, dan menjaga hubungan dengan alam.

4. Multitafsir (Terbuka untuk Penafsiran)

  • Syair-syair ini sering kali bersifat metaforis dan simbolis. Hal ini membuatnya kaya akan tafsir, tergantung pada pemahaman individu atau kelompok masyarakat. Misalnya, versi bahasa Arab dari syair-syair ini bisa merujuk pada inti ajaran Islam, sementara versi Jawa kerap menekankan harmoni antara spiritualitas dan budaya.

Baca Ini : Kenapa Kebiasaan Menyanyikan Diri Sendiri Mulai Hilang

 

Berikut syair permainan zaman Walisongo yang mengandung makna dan filosofi tinggi :

  1. Syair Sluku-Sluku Bathok

Sluku-sluku bathok

Bathoke ela-elo

Si Rama menyang Solo

Oleh-olehe payung mutho

 

Pak jenthit lolo lo bah,

Yen obah medeni bocah

Yen urip golekko dhuwit

[makna]

Sluku-sluku bathok, bathok

(kepala) kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuannya. Kalo diforsir terus bisa aus, stress, hang, macet daya pikirnya.

Bathoke ela-elo, dengan cara berdzikir (ela-elo = Laa Ilaaha Ilallah), mengingat Allah akanmengendurkan syaraf neuron di otak.

Si Rama menyang Solo, siram (mandilah, bersuci) menyang (menuju) Solo (Sholat). Lalu bersuci dandirikanlah sholat.

Oleh-olehe payung mutho, yang sholat akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah, Tuhan kita.Kalo Allah sudah melindungi, tak ada satupun di dunia ini yang kuasa menyakiti kita. tak satupun.

Pak jenthit lolo lo bah, kematian itu datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu. Tak bisa dimajukan ataudimundurkan walau sesaat. Sehingga saat kita hidup, kita harus senantiasa bersiap dan waspada.Selalu mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal untuk dibawa mati.

Yen obah medeni bocah. Saat kematian datang, semua sudah terlambat. Kesempatan beramal hilang.Banyak ingin minta dihidupkan tapi Allah tidak mengijinkan. Jika mayat hidup lagi maka bentuknyamenakutkan dan mudharat-nya akan lebih besar.

Yen urip golekko dhuwit. Kesempatan terbaik untuk berkarya dan beramal adalah saat ini. Saat masihhidup. Pengin kaya, pengin membantu orang lain, pengin membahagiakan orang tua: sekaranglahsaatnya. Ketika uang dan harta benda masih bisa menyumbang bagi tegaknya agama Allah. Sebelumterlambat, sebelum segala pintu kesempatan tertutup.

2. Syair Lir-ilir

Lir ilir lir ilir tanduré wis sumilir

Tak ijo royo – royo taksengguh temantèn anyar

Bocah angon bocah angon pènèkna blimbing kuwi

Lunyu – lunyu pènèkna kanggo mbasuh dodotira

Dodotira dodotira kumitir bedhahing pinggir

Dondomona jlumatana kanggo séba mengko soré

Mumpung padhang rembulané

Mumpung jembar kalangané

Ya suraka surak horé

Lagu ini konon kabarnya merupakan ciptaan sunan Kalijaga, ada juga yang berpendapat hasil karyasunan Bonang,

lirik tembang atau lagu ini dulunya diciptakan untuk mediasi dan wahana dakwah Islamoléh para Walisanga,

pendekatan budaya seperti ini dilakukan karena masyarakat Jawa kala itu masihkuat dengan tradisi Hindu.

Maka untuk menyampaikan ajaran Islam di tengah – tengah masyarakat Jawa,

maka dirasa perlu untuk mendekatinya melalui budaya salah satunya adalah melalui bahasa Jawaitu sendiri.

Sebenarnya yang ingin disampaikan dalam lirik lagu tersebut adalah ;

  1. Memberitahukan bahwa adanya kabar baik, yang sumilir seperti tunas padi dipematang sawah,sebuah harapan baru.
  2. Yang terlihat begitu memikat indah, yang layak untuk disongsong selayaknya pengantin baru(datangnya wahyu ilahi) melalui nabi Muhammad.
  3. Bocah angon sebagai analogi dan perumpamaan hati para manusia itu sendiri.
  4. Selicin dan sesusah apapun hendaknya ikut memanjat (meraih) blimbing memiliki lima sisi yangmenggambarkan 5 rukun Islam. Untuk membasuh dan sarana penyucian diri dari segala dosa.
  5. Karena pakaian (akhlak) manusia sudah mulai compang camping tidak karuan.
  6. Oleh karena itu hendaknya disucikan dan dibersihkan dengan Sahadat, Salat, Puasa, Zakat danHaji, yang intinya mengajak manusia untuk ber ISLAM.
  7. Mumpung masih ada kesempatan, mumpung hayat masih dikandung badan ayo beramai – ramaimenerima ajaran ISLAM.

Secara garis besar bisa ditarik kesimpulan begini :

Lirik ini mengabarkan dan mengajak kepada masyarakat Jawa tentang berita gembira telah datangnyanabi terakhir yaitu Muhammad dangan membawa ajaran tauhid ISLAM, yang siapapun berhak dan bisamengimaninya tanpa ada perbedaan kasta, kedudukan, kekayaan, karena dalam Islam setiap manusiasama di hadapan Allah hanya ketaqwaan lah yang membedakannya, selagi manusia masih bernafasmaka pintu hidayah dan pintu tobat akan selalu terbuka.