Jalan Suryakencana di Kota Bogor, Jawa Barat memiliki sejarah yang kaya, terutama sebagai pusat kuliner dan kawasan pecinan yang eksis sejak lama. Jalan ini pada awalnya merupakan bagian dari Jalan Raya Anyer-Panarukan yang dibangun atas perintah Gubernur Jendral Daendels pada tahun 1808. Pada masa itu, jalan ini dikenal sebagai Post Weg atau Jalan Pos.
Pada tahun 1970-an, Jalan Suryakencana mengalami perubahan signifikan ketika sebagian besar warga Tionghoa pindah dan menetap di sana. Pada waktu itu, jalan ini dikenal sebagai Handelstraat, yang berarti Jalan Perdagangan dalam bahasa Belanda. Nama jalan kemudian diubah menjadi Suryakencana pada tahun 1853, ketika Gubernur Jendral JC Baud mengatur zona pemukiman etnis yang disebut wijkenstelsel.
Selama bertahun-tahun, Jalan Suryakencana telah menjadi pusat perdagangan yang penting di Kota Bogor. Bangunan-bangunan kuno seperti Vihara Hok Tek Bio atau Dhanagun yang berfungsi sebagai tempat ibadah umat Budha, serta pasar tradisional Pasar Baroe yang kini telah bertransformasi menjadi Plaza Bogor, merupakan bagian dari cagar budaya yang ada di sekitar jalan ini.
Keunikan Jalan Suryakencana terlihat dari Gerbang Lawang Suryakencana, yang mencerminkan pluralisme budaya dengan menggabungkan elemen-elemen dari budaya Tionghoa dan Sunda. Gerbang ini menampilkan Kujang, senjata tradisional Sunda, serta patung-patung macan putih yang merupakan simbol Kerajaan Sunda dan Prabu Siliwangi.
Meskipun mengalami modernisasi, Jalan Suryakencana tetap mempertahankan warisan budaya dan terus berkembang seiring waktu. Dengan julukan “road of never sleeping”, jalan ini tidak hanya merupakan pusat kuliner yang terkenal tetapi juga pusat kegiatan budaya dan religius yang terus menjadi bagian hidup masyarakat di sekitarnya.
Jalan Suryakencana di Bogor memang merupakan surganya kuliner yang wajib dikunjungi. Berikut adalah beberapa kuliner yang sangat direkomendasikan untuk dicoba ketika berada di sana:
- Bakso Kikil Pak Jaka: Bakso dengan topping kikil yang empuk dan gurih. Kuahnya bening tapi mantap rasanya. Harganya sekitar 25 ribu per porsi.
- Laksa Gang Aut Mang Wahyu: Laksa yang sudah ada sejak 1960-an dengan resep turun-temurun. Isinya meliputi ketupat, tauge, tahu, kemangi, oncom, dan telur rebus, disiram dengan kuah kuning. Harganya sekitar 20 ribu.
- Soto Kuning Pak M. Yusuf: Soto dengan kuah pekat dan berbagai pilihan isi seperti daging, babat, ayam, pari, dan otak. Harganya berkisar antara 35 ribu sampai 70 ribu per porsi.
- Nasi Goreng Guan Tjo: Nasi goreng dengan pilihan menu halal seperti nasi goreng pete dan sate sapi. Harganya mulai dari 20 ribu.
- Sate Sumsum Pak Oo: Sate sumsum dan sate ginjal dengan bumbu kacang gurih. Harganya sekitar 30 ribu per porsi.
- Martabak Encek: Martabak manis dengan tekstur lembut dan aroma arang. Sudah terkenal sejak 1975.
- Bir Kotjok Abah: Minuman klasik berbahan jahe dan rempah-rempah. Meskipun namanya “bir”, minuman ini tidak mengandung alkohol. Harganya hanya 5 ribu per gelas.
- Es Pala Pak Ujang: Es segar dari buah pala dengan harga yang terjangkau, hanya 6 ribu per gelas.
Semua kuliner ini tidak hanya menggugah selera tetapi juga menggambarkan kekayaan tradisional dan budaya kuliner di Jalan Suryakencana, Bogor. Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk mencoba ketika berkunjung ke sana!

